Selasa, 14 Mei 2013

Kutukan Para Dewa.


Di suatu malam yang pekat, terdengar lolongan serigala dari arah timur. Tepat diatas tumbukan batu-batu granit hitam, Feristim berdiri. Hutan lebat yang mengelilingi, bayangan-bayangan tersembunyi, lautan samudera Derilam, dan padang Weris adalah deskripsi yang tepat untuk Feristim. Di tengahnya berdiri pemukiman tempat tinggal para manusia berkuping runcing, bersayap, dan bermata setajam hempasan angin dari arah lautan. 

Beberapa ratus tahun yang lalu, gerbang tempat tinggal para dewa dan dewi telah terbuka. Salah satu dewa, bernama Autrus dihukum karena telah melakukan larangan yang sangat besar. Ia jatuh cinta oleh seorang gadis, dan gadis itu juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Gadis itu adalah gadis paling anggun dan menawan di sepanjang mil desa Feristim. Para dewa dan dewi tertinggi mengambil keputusan untuk mengusirnya ke bumi, menjauhkan gadis pujaan hatinya dari pandangannya, dan merubahnya menjadi serigala.  

Beratus-ratus tahun Autrus hidup di bumi, didalam hutan yang sangat gelap dan kelam. Setiap malam, lolongannya terdengar diseluruh Feristim. Cerita tentangnyapun bermunculan, ada yang mengatakan kalau ia adalah manusia yang dikutuk menjadi serigala, ada juga yang mengatakan kalau ia adalah salah satu malaikat yang diusir dari surga karena kelalaiannya dan dirubah menjadi seekor serigala. 

Walaupun ia dirubah menjadi seekor serigala, ia sama sekali tidak pernah menghilangkan rasa cintanya pada gadis itu, setiap detik ia berusaha menghapus perasaannya, itu sama saja membunuh dirinya perlahan-lahan. Dengan segenap kekuatan, ia rela menjadi serigala asalkan rasa cintanya tidak hilang.

Setiap 11 tahun sekali, banyak orang yang berbondong-bondong datang ke Feristim. Di desa penuh keajaiban itu selalu digelar perayaan musim bintang jatuh, dimana benda-benda ajaib dijual, harapan, mimpi, atau bahkan permintaan terhadap bintang jatuh bagi siapapun yang beruntung. 

Austrus diberikan kesempatan untuk menjadi manusia setiap 11 tahun sekali, namun sekalipun ia berubah menjadi manusia, wajahnya yang tampan diubah menjadi sangat buruk rupa. Walaupun begitu ia tetap bersyukur dan sabar. 
Disuatu perayaan musim bintang jatuh, ia pergi ke kedai mimpi. Dimana setiap mimpi dan permintaan akan diwujudkan dengan beberapa pengorbanan, ya hanya satu malam. 

Disana, seorang gadis bermata sebiru laut, berkulit seputih gading, dan rambutnya selembut hembusan angin sore. Gadis jelita, sungguh sangat jelita. Gadis itu mengingatkan Autrus pada seorang gadis yang membuat jantungnya berdetak tak karuan, yang membuat hatinya bertebarang bunga musim semi. 
Gadis itu menghampiri Autrus yang sedang melihat-lihat ke arah lukisan mimpi yang terpajang di bingkai bunga kaca. 
"Mimpi apa yang kau inginkan?" tanya gadis itu. 
"Berapa harga mimpi-mimpi itu? aku hanya punya dua keping koin emas." jawab Autrus, matanya menatap lekat-lekat mata indah sang gadis jelita, entah siapa namanya. Perasaan itu muncul kembali, aroma musim semi bermunculan dihatinya, ia jatuh lagi... dalam cinta. 
"Um... jangan kaku begitu, sebaiknya kita bicarakan dulu mimpi-mimpi itu, soal harga itu menjadi urusan terakhir." 
Sang gadis mengantar Autrus masuk kedalam salah satu ruangan di kedai mimpi. Ia menaburkan serpihan serbuk sayap peri, aromanya seperti bunga musim semi, memabukan. 
"Nah sekarang, coba kau pejamkan matamu, jujurlah pada hatimu, jujurlah apa yang kau inginkan selama ini." bisiknya dalam. Suaranya yang lembut menenangkan pikiran Autrus, dan iapun jatuh dalam lamunannya, mimpinya. 

Autrus membayangkan sekeping hati dalam mimpinya, namun hati itu dikelilingi lidah api, racun, dan ketakutan. Seketika, mata Autrus terbuka. Mimpinya seolah-olah menghilang. Tidak, tidak menghilang. Mimpi itu sudah terlukiskan disalah satu bunga kaca dalam kedai mimpi. Gadis penjaga kedai termangu, ia menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka akan apa yang terjadi, ia tidak menyangka apa yang di impikan Autrus. Tiba-tiba, pandangan gadis itu menjadi buram, beberapa tetes air mata jatuh membasahi wajahnya yang lembut. 

"Mengapa kau menangis?" tanya Autrus. Kedua tangan Autrus menghapus air mata yang terjatuh di pipi sang gadis.
"Aku pikir, jarak dan waktu membuat kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku pikir, kita tidak akan  bertemu lagi, walaupun wajahmu telah dirubah oleh para dewa, aku tetap mengenalmu. Aku sudah dihukum para dewa dan dewi, aku tidak ingin... mencintaimu lagi." kata gadis itu lirih. 
Autrus memperhatikan wajah sang gadis, lekat-lekat. dan ia pun tersadar, kalau ternyata gadis itu adalah gadis yang ia cintai dulu, dan itulah yang membuatnya dihukum. 
"Mimpimu, adalah mimpi terburuk. Dewa Oms telah mengatakan padaku, yang memiliki mimpi itu hanyalah milik dirimu, Autrus. Itulah sebabnya mengapa aku bisa mengenalmu" lanjut gadis itu lagi, ia menundukan kepalanya, nada suaranya begitu lirih. 
"Kau... Sungguh, aku senang bisa melihatmu lagi, tapi bagaimana bisa? waktu yang memisahkan kita sudah beraturs-ratus tahun lamanya, bagaimana bisa?" tanya Autrus. 
"Aku dikutuk, aku tidak akan pernah tua, aku tidak akan pernah menemukan cinta yang lain. Aku dikutuk,...dan itu karenamu, tolong Autrus aku mohon pergi dari kehidupanku!" jawab sang gadis muram. Apa yang dikatakan sang gadis bukanlah yang sebenarnya, ia mengatakan itu hanya karena ia ingin mematahkan kutukan, karena hanya itulah satu-satunya cara, padahal... dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia mencintai Autrus, dan tidak ada yang bisa merubah rasa cintanya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan pergi, tapi ingatlah... satu-satunya gadis yang bisa aku cintai hanyalah kau, cuma kau." kata Autrus sambil mengecup kening sang gadis. Lagi-lagi, air mata mengalir dari mata sang gadis, ia juga tidak dapat mempungkiri kalau satu-satunya cintanya adalah Autrus, hanya untuk Autrus. Namun, ia tidak punya pilihan, kalau ia tetap mencintai Autrus, maka kutukan dari para dewa dan dewi tidak akan musnah. Satunya-satunya cara melepaskan kutukan itu adalah menghapuskan rasa cintanya terhadap Autrus.

Amarah Autrus begitu besar, rasa kesedihan begitu membuatnya tertekan. Tubuhnyapun perlahan-lahan berubah menjadi seekor serigala. Ia berlari keluar kedai, orang-orang tersentak melihat kehadiran Autrus yang berubah menjadi serigala. Ia pun dikejar-kejar seluruh orang yang ada di perayaan musim bintang jatuh. Beberapa orang membawa senapan, dan berteriak dengan garang untuk membunuh Autrus. 

Mereka mengejar Autrus hingga ke pelosok hutan, detak jantung Autrus berpacu lebih cepat dari biasanya, matanya memerah, dan lolongannya semakin keras. Salah satu orang yang mengejar Autrus berhasil menembak kaki kirinya yang berbulu. Iapun terjatuh kesakitan, dalam waktu yang bersamaan sang gadis penjaga kedai mimpi juga terjatuh, jantung gadis itu kesakitan. 

Timbul cahaya yang memancar ke langit malam itu. Dua cahaya yang memancar keatas langit. Satu sinar memancar dari jantung Autrus, dan satunya lagi dari sang gadis. 
Tubuh Autrus dan sang gadis terbang keatas langit malam, dengan cahaya itu. Orang-orang menghentikan langkahnya, mereka bersimpuh, bertekuk lutut, takjub melihat pemandangan ajaib yang baru terjadi satu kali selama perayaan musim bintang jatuh. 

Gerbang dunia dewa dan dewi terbuka. Para dewa dan dewi membentuk suatu lingkaran, mengelilingi tubuh mereka. 
"Sudah saatnya, kita melepaskan kutukan ini. Biarkan mereka hidup bahagia untuk selamanya, beratus-ratus tahun mereka tidak memusnahkan rasa cinta dari hati mereka masing-masing, itu membuktikan kalau kekuatan cinta mereka begitu besar. Walaupun kita memisahkan mereka dengan jarak dan waktu, mereka akan tetap bertemu lagi, cintalah yang mempertemukan mereka. Walaupun mereka berusaha untuk pergi, dan menghilangkan rasa cinta itu, usaha mereka hanyalah sia-sia, jangan kita paksakan lagi. Jika mereka berpisah, mereka tidak lebih dari sepasang burung yang kehilangan sayapnya." Kata Dewa Oms. 

Semua dewa dan dewi pun menganggukan kepalanya. Autrus dan gadis pujaan hatinya terlepas dari kutukan, mereka hidup abadi di atas langit. Bahagia, untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar